Dimana Level Budaya K3 Perusahaan Anda?


Assalamu’alaikum sobat.. 

Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) menargetkan tahun 2015 masyarakat industri di Indonesia sudah menerapkan budaya K3 di lingkungan kerja sebagai salah satu upaya menghadapi persaingan global dan penerapan Asean Economic Community (AEC) 2015. (sumber: Media Indonesia Epaper).
Siapa masyarakat industri? Masyarakat industri adalah seluruh karyawan yang bekerja di suatu perusahaan, sedangkan yang dimaksud “karyawan” adalah semua unsur yang ada di dalam organisasi perusahaan mulai dari level manajemen puncak sampai dengan karyawan yang paling bawah secara struktural. 
Sebagai seorang praktisi dan akademisi K3, pastinya sudah mengetahui bahwa target Indonesia berbudaya K3 harus terwujud pada tahun 2015. Target pemerintah tersebut merupakan keinginan bersama dari semua akademisi dan praktisi K3 yang ada di Indonesia. 
Untuk melihat sejauh mana penerapan budaya K3 di suatu perusahaan, organisasi international Dupont dan Association International of Oil & Gas Producers (OGP) mengeluarkan klasifikasi budaya K3 untuk perusahaan. Pada artikel ini yang akan dibahas adalah klasifikasi budaya K3 Dupont. 

Kurva Bradley Dupont
Dupont adalah organisasi internasional yang bergerak dibidang ilmu pengetahuan dan keahlian teknis berkelas dunia ke pasar global melalui produk, bahan, dan layanan inovatif. Beberapa perusahaan besar di Indonesia menggunakan jasanya seperti Pertamina (PHE) dan HM Sampoerna Tbk dalam membentuk budaya K3 diperusahaannya masing-masing. Salah satu produk yang digunakan adalah STOP Card (Safety Training & Observation Program), yang mana program tersebut mirip dengan pelajaran yang ada di dalam materi POP (Pengawas Operasional Pertama) seperti pengamatan total. Dalam membuat klasifikasi budaya K3, Dupont menerbitkan suatu kurva yang disebut dengan Bradley Curve, seperti pada gambar di atas.
Pada kurva tersebut, Dupont membagi 4 klasifikasi tingkatan budaya K3 yaitu sebagai berikut:
1. Stage Reactive
Kepedulian manajemen dan karyawan terhadap K3 sangat rendah. Tanggung jawab K3 diserahkan kepada bagian K3. Mereka berpendapat bahwa K3 merupakan suatu keberuntungan saja. Jika ada kecelakaan kerja, mereka baru menyadarinya dan akan kembali seperti semula setelah hal tersebut berlalu. Mereka hanya berfokus kepada kepatuhan (compliance)daripada budaya K3 yang kuat.
2. Stage Dependent
Karyawan melihat K3 sebagai sebuah aturan/prosedur yang harus diikuti. Tingkat kecelakaan dapat menurun dan manajemen percaya bahwa K3 dapat dikelola jika karyawan mau mengikuti aturan. Melalui komitmen manajemen, berdampak positif terhadap pengawas yang lebih bertanggung jawab akan K3 bawahannya. Salah satu yang mendukungnya adalah memberikan pelatihan K3 untuk karyawan.
3. Stage Independent
Setiap individu karyawan bertanggung jawab atas K3 untuk diri mereka sendiri. Pengetahuan, komitmen dan standar K3 sudah ditekankan pada setiap karyawan. Proses internalisasi sebuah nilai K3 juga ditanamkan kepada seluruh karyawan. Manajemen terlibat aktif dalam penerapan, pembiasaan dan pengakuan terhadap K3 dari masing-masing individu.
4. Stage Interdependent
K3 merupakan sebuah tanggung jawab tim baik untuk diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka tidak menerima standar yang rendah dan mengambil risiko. Mereka aktif berkomunikasi dengan orang lain untuk memahami sudut pandang mereka terkait K3. Mereka percaya bahwa peningkatan K3 hanya dapat dicapai dengan sebuah tim dan target zero incidentadalah tujuan yang dapat dicapai. (referensi: http://www.dupont.com)
Dari empat klasifikasi budaya K3 perusahaan di atas, dimanakah posisi budaya K3 Perusahaan Anda? Silahkan dijawab masing-masing dan cobalah direnungkan.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published.