Tafsir Surat At-Takatsur

Nama lain dari surat Al-Takatsur adalah Al-Makbaroh yang berarti kuburan dalam bentuk jamak. Sebagian ulama mengatakan surat ini adalah surat Al-Hakum yang merupakan bunyi pada ayat pertama. Lebih mahsyur disebut surat At-Takatsur yang artinya bermegah-megahan.

Ayat 1

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,

Pada ayat ini manusia disibukkan dengan kehidupan dunia sehingga lalai dengan kehidupan akhiratnya. Kesibukan bisa berupa pangkat, jabatan dan ilmu yang bersifat dunia. Pada hakikatnya manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya sesuai pada dalil di bawah.

Angin yang menerbangkan (Adh-Dhāriyāt):56 – Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Pembuktian (Al-Bayyinah):5 – Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Definisi ibadah adalah segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhoi baik berupa perkataan atau perbuatan, baik yang tampak dan tersembunyi. (Syaikul Islam Ibnu Taimiyah). Ibadah dapat kita lakukan dimana saja, tidak hanya di masjid.

Ayat 2

sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Disebabkan karena kesibukannya terhadap dunia sampai lupa atas kehidupan akhirat sampai dirinya mati atau masuk ke dalam kubur. Mereka akan menyesal atas apa yang dilakukannya.

Orang-orang yang munafik (Al-Munāfiqūn):10 – Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Oleh karena itu bacalah doa sayyidul istighfar.

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ، فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allaahumma anta robbii, laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii, wa anaa ‘abduka, wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu, a’uudzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bidzanbii, faghfir lii, fa-innahu laa yagh-firudz-dzunuuba illaa anta.

Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.

HR. Al Bukhari no. 5522, 6306 dan 6323, at-Tirmidzi no. 3393, an-Nasa’i no. 5522 dan lain-lain.

Keutamaan:
Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sayyidul Istighfar adalah bacaan: (doa di atas).” Kemudian beliau menyebutkan keutamaannya: “Barangsiapa yang membaca doa ini dengan penuh keyakinan di sore hari, kemudian dia mati pada malam harinya (sebelum pagi) maka dia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan penuh keyakinan di pagi hari, kemudian dia mati pada siang harinya (sebelum sore) maka dia termasuk ahli surga.”

Keterangan:

  1. Dinamakan Sayyidul Istighfar, karena bacaan istighfar di atas adalah lafal istighfar yang paling mulia dibandingkan lafal istighfar lainnya. Dalam lafal istighfar ini, terdapat 8 aspek yang menjadikan istighfar ini memiliki keutamaan yang besar:
  2. Dimulai dengan pujian kepada Allah.
  3. Adanya pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah, makhluk Allah yang berusaha menghambakan dirinya kepada Allah.
  4. Mengimani adanya janji Allah, sehingga sang hamba sangat berpijak pada ikrarnya untuk mendapatkan janji Tuhannya.
  5. Pengakuan akan kekurangan dirinya, dengan sekaligus memohon perlindungan kepada Tuhannya dari keburukan dirinya.
  6. Pengakuan terhadap banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada dirinya, yang ini mewakili rasa syukur.
  7. Pengakuan terhadap banyaknya dosa dan kelancangannya, yang ini merupakan bentuk taubatnya.
  8. Diakhiri dengan permohonan ampunan yang setulusnya kepada Allah.
  9. Dengan keyakinan, tidak ada Dzat yang mampu mengampuni dosa-dosa hamba kecuali Allah, Sang Maha Kasih Sayang.

(Fiqh al-Adiyah, 3/15).

Kata ‘zurtum‘ bermakna sebentar. Artinya manusia dikubur merupakan batu loncatan untuk menuju alam selanjutnya.

Ahlussunnah meyakini bahwa terdapat nikmat kubur dan azab kubur. Ketika kita mendapatkan nikmat kubur maka pertanda akan dimudahkan selanjutnya.

Di alam kubur kita akan ditanya mengenai 3 perkara yaitu:

  1. Siapa Tuhanmu?
  2. Siapa Nabimu?
  3. Apa Agamamu?

Manusia itu suka berangan-angan seperti dalam hadist di bawah:

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Andai kata anak itu memiliki emas satu lembah, niscaya ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi mulut (hawa nafsu) -nya melainkan tanah (maut). Dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.” (HR. Muslim no. 1738)

Tafsir ibnu katsir tentang harta yang bermanfaat sesuai dengan Hadist imam muslim:
“Ada hamba mengatakan maali maali (inilah hartaku, inilah hartaku), Nabi berkata: bukankah hartamu itu yang sudah engkau makan dan sudah hilang, atau yang engkau belikan pakaian lalu menjadi lusuh, atau yang sudah engkau sedekahkan?”.

Jika ada orang yang berinfak, malaikat akan mendoakan agar diganti dengan lebih baik. Sedangkan bagi yang tidak berinfak, maka malaikat mendoakan kerusakan atasnya. Ini seperti pelaku riba.

Ayat 3

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

Ayat 4

dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Arti ‘kalla‘ adalah ancaman dan pada ayat selanjutnya diulang kembali kata tersebut.

Imam At-Thohak menafsirkan kata ‘kalla‘ yang diulang. Kata ‘kalla‘ yang pertama adalah peringatan kepada orang kafir. Sedangkan ‘kalla‘ yang kedua adalah peringatan kepada orang mukmin.

Ayat 5

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

Pengetahuan adalah apa yang kita baca di dalam Al-Qur’an dan hadist yang melahirkan keyakinan.

Ilmu terbagi 3 menurut ulama

  1. Ilmu yaqin (pengetahuan)
  2. Ainul yaqin (melihat)
  3. Haqul yaqin (merasakan)

Sebagai contoh kita mengetahui tentang surga (ilmu), melihat surga (ainul) dan merasakan kenikmatan surga (haqqul).

Ayat 6

niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

Ini termasuk dalam tingkatan Ainul Yaqin karena mereka sudah melihatnya matanya sendiri.

Bagi seorang muslim cukup dengan ilmu yaqin. Jangan sampai kita beriman ketika sudah ainul yaqin karena sudah tidak berlaku iman kita.

Ayat 7

dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.

Melihat dengan sebenar-benarnya melalui mati sendiri dan disini tidak bermanfaat iman seseorang.

Ayat 8

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Tafsir Ibnu Katsir memasukan hadist tentang bertamunya Rasul, Abu Bakar dan Umar ke rumah salah satu rumah shahabat untuk ayat tetakhir dari surat At-Takatsur.

Cara bersyukur kepada Allah .

  1. Mengikrarkan dalam hati bahwa nikmat datangnya dari Allah. Jangan seperti perkataan Qorun: “Aku bisa menjadi seperti ini (kaya) karena atas kepintaran aku.
  2. Mengucapkan dengan lisan.
  3. Bersyukur dengan amal perbuatan yaitu amal shalih.

SELESAI
SEMOGA BERMANFAAT

15 Jumadil Akhir
Masjid Ar-Rahmat Slipi JakBar
Ust. Hamzah Abbas

Spread the love