Kemana Aku Harus Mengadu

Allah Ta’ala menguji semua hambanya baik yang beriman maupun yang kafir. Ada yang diuji dengan rasa sakit, hilang hartanya, anaknya dan lainnya. Sikap manusia ketika diberikan ujian ada yang menghadapinya dengan kemarahan dan mengadu kepada sesama manusia. Ini adalah kedudukan yang paling buruk. Namun ada pula yang bersabar dan memaksa dirinya untuk bersabar. Dikeluhkan angan-angannya dan gundah gulananya kepada Allah, maka mereka berada pada kedudukan yang paling baik.

Ujian yang dirasakan oleh para Nabi jauh lebih berat dibanding manusia yang lain, namun mereka (para Nabi) hanya mengadu kepada Allah Ta’ala. Berikut beberapa kisah para nabi dari Al-Qur’an yang menjelaskan kepada kita akan sabarnya para Nabi ketika diberikan ujian dan hanya kepada Allah Ta’ala mereka mengadu.

1. Nabi Nuh alaihissalam mengadu kepada Allah seperti di dalam surat Al-Qamar ayat 10-11: “Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”

2. Nabi Ibrahim Alaihissalam juga mengadu kepada Allah Ta’ala pada surat ‘Ibrāhīm ayat ke 37 : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

3. Nabi Ayub diuji oleh Allah dengan penyakit selama 18 tahun. Semua kerabatnya meninggalkannya kecuali istri dan 2 sahabatnya. Dia hanya mengadu kepada Allah Ta’ala. Surat Al-‘Anbyā’ ayat ke 84 : “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”

Baca juga: Jaga Lisanmu

4. Nabi Yunus ketika dakwahnya tidak diterima oleh umatnya dan bahkan diancam oleh umatnya. Beliau berdoa di dalam surat Al-‘Anbyā’ ayat ke 87 : “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.

5. Nabi Zakaria alaihissalam ketika beliau bersedih karena umur yang sudah lanjut dan keturunan kunjung datang. Hal ini sebagaimana dalam surat Al-‘Anbyā’ 89-90 : “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

6. Nabi Yusuf alaihissalam yang mengadu kepada Allah Ta’ala ketika dirinya hendak didzalimi yang dijelaskan pada surat Yūsuf) ayat 33-34 : “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”. Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

7. Nabi Musa alaihissalam yang mengadu kepada Allah sebagaimana di dalam surat Al-Qaşaş ayat 24 : “Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

8. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam ketika perang Badar, maka beliau berdoa hanya kepada Allah untuk memenangkan kaum muslimin sebagaimana di dalam surat Al-‘Anfāl ayat 9 : “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.

Oleh karenanya setiap manusia tidak akan terlepas dengan ujian. Tentunya kita harus tahu bagaimana menghadapinya yang diajarkan sesuai syariat. Di bawah ini adalah apa yang syariat ajarkan ketika kita mendapatkan ujian:

  1. Hanya mengadu kepada Allah. Jika mengadu kepada Allah, maka Allah akan mengabulkannya sedangkan jika mengadu kepada manusia, maka yang didapat adalah pengusiran dan penghinaan.
  2. Menghinakan diri ketika berdoa atau meminta kepada Allah, karena lemahnya kedudukan diri kita dihadapan Allah dengan kata lain bahwa kita adalah hambanya.
  3. Tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala. Tetap taat kepada Allah dengan mensucikan Allah Ta’ala.

SELESAI
SEMOGA BERMANFAAT

Ditulis pada tanggal 16 Ramadhan 1441H
Kajian Online Mata Air Tasniim
Pemateri Ust. Mizan Qudsiyah Lc. MA

Spread the love