Pelajaran Aqidah dari Kisah Nabi Ibrahim

Sebagian ulama mengatakan bahwa nama Ibrahim bukan dari bahasa Arab, namun dari bahasa Syiria yang artinya kasih sayang. Sebagaimana beliau sangat sayang terhadap anak-anak.

Beliau berdakwah mengajak kepada kaumnya untuk meninggalkan sembahan-sembahan selain Allah Ta’ala seperti menyembah patung, matahari, bulan dan lainnya. Orang yang pertama kali beliau dakwahkan adalah bapaknya sendiri dan ini menjelaskan kepada kita bahwa prioritas dakwah adalah kepada keluarga.

Baca Juga: Menelaah Kembali Sifat Ibadurrahman

Di bawah ini adalah dalil dimana Nabi Ibrahim alaihis salam berdakwah kepada bapaknya dan kaumnya agar bertauhid.

Nabi-Nabi (Al-‘Anbyā’):52-54 (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”.

Metode dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya:

1. Dakwah kepada Tauhid.

Nabi-Nabi (Al-‘Anbyā’):52 – (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”

2. Menghancurkan berhala.

Nabi-Nabi (Al-‘Anbyā’):58 – Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

3. Berdialog dengan Raja (Penguasa)

Sapi Betina (Al-Baqarah):258 – Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”.Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Beberapa keistimewaan Nabi Ibrahim.

1. Dijadikan oleh Allah ta’ala sebagai Khalil.

Derajatnya lebih tinggi dari Mahabbah. Derajat ini khusus untuk Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. QS. An-Nisā ayat 125 yang artinya Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

2. Allah Ta’ala memuji beliau

Allah Ta’ala memuji beliau di dalam banyak tempat dan mensifatinya dengan kebaikan, kegantengan dan kesempurnaan.

3. Adalah beliau yang pertama kali diberikan pakaian oleh Allah Ta’ala di hari kiamat.

Beberapa pelajaran Aqidah dari Kisah Nabi Ibrahim ‘alahis salam.

1. Dakwah kepada Tauhid.

Tugasnya para Nabi adalah mendakwahkan tauhid. QS. Yūsuf : 108 – Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

2. Sabar terhadap musibah.

Ini merupakan sabar terhadap takdir Allah ta’ala. Nabi Ibrahim hendak dibakar oleh kaumnya. Maka Nabi Ibrahim alaihissalam mengatakan hasbunallah wani’mal wakil.

3. Berpindah demi menegakan agama Allah ta’ala.

4. Kejujuran untuk bertawakal kepada Allah dengan melakukan sebab-sebab.

5. Loyalitas kepada yang Hak dan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan berlepas diri dari kebatilan da orang-orang yang berada di atas kebatilan.

6. Sempurnanya beliau dalam menyerahkan diri kepada Allah ta’ala.

Barisan-barisan (Aş-Şāffāt):100 – Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Barisan-barisan (Aş-Şāffāt):101 – Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Barisan-barisan (Aş-Şāffāt):102 – Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Barisan-barisan (Aş-Şāffāt):103 – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

SELESAI
SEMOGA BERMANFAAT

Ditulis pada tanggal 11 Dzulhijjah 1441H
Kajian Online MT Air Tasniim
Pemateri Ustadz Mizan Qudsiah Lc. MA

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published.